Papuatribune.com, MANOKWARI – Sejarah telah menggariskan bahwa Papua bukan sekadar wilayah di peta, melainkan bagian integral dari napas kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momentum 1 Mei menjadi pengingat abadi bahwa integrasi Papua ke dalam NKRI merupakan keputusan final yang lahir dari semangat persatuan, perjuangan, dan cita-cita bersama untuk hidup dalam bingkai kebangsaan yang utuh. Di bawah langit Manokwari, komitmen itu kembali ditegaskan bahwa kedaulatan NKRI di Tanah Papua adalah harga mati yang tumbuh dari ketulusan hati rakyatnya untuk terus hidup berdampingan dalam keberagaman.
Melalui Barisan Merah Putih, semangat persatuan diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konvoi kebangsaan yang membawa pesan damai ke seluruh penjuru Papua Barat. Iring-iringan ini bukan sekadar perjalanan kendaraan, tetapi simbol bahwa persatuan adalah kendaraan utama menuju kesejahteraan, keamanan, dan masa depan yang lebih baik. Dalam setiap langkah dan laju roda, tersimpan pesan bahwa kekuatan bangsa terletak pada kemampuan masyarakat untuk saling menjaga, menghormati sesama pengguna jalan, serta merawat perbedaan sebagai kekayaan yang memperkokoh fondasi kebangsaan Indonesia.
Kini, tantangan terbesar kita adalah menutup ruang bagi segala bentuk provokasi yang berupaya mengoyak persaudaraan dan merusak tenun kebangsaan. Samuel Mandowen mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi benteng perdamaian di Tanah Papua dengan menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan mendukung pembangunan yang merata. Situasi yang aman dan kondusif harus terus dipelihara agar generasi masa depan Papua dapat tumbuh dalam lingkungan yang stabil, damai, serta bangga menjadi bagian dari bangsa besar yang bernama Indonesia.
“Papua Damai, Indonesia Kuat. Bersatu dalam Merah Putih untuk Masa Depan yang Lebih Sejahtera.” (ont)