Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, terus menunjukkan geliat pembangunan di berbagai sektor strategis. Daerah yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari ini memiliki karakter wilayah yang unik: kombinasi antara pesisir, dataran rendah, dan kawasan pegunungan yang subur.
Secara geografis, Manokwari Selatan berbatasan langsung dengan kawasan Pegunungan Arfak, menjadikannya daerah dengan potensi pertanian dan perkebunan yang sangat menjanjikan. Komoditas seperti kakao, pala, kopi, serta hortikultura menjadi andalan masyarakat setempat. Struktur tanah yang subur serta curah hujan yang relatif stabil mendukung produktivitas sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Di sektor pariwisata, Manokwari Selatan memiliki daya tarik alam yang belum banyak terekspos secara luas. Pantai-pantai alami dengan garis pantai yang masih bersih serta perbukitan hijau menjadi potensi wisata berbasis alam dan konservasi. Salah satu wilayah yang mulai dikenal adalah Distrik Ransiki sebagai ibu kota kabupaten, yang terus berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi.
Akses menuju Manokwari Selatan dapat ditempuh dari Manokwari melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 2–3 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Peningkatan infrastruktur jalan dan fasilitas publik menjadi fokus pemerintah daerah guna mempercepat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Selain potensi ekonomi, masyarakat Manokwari Selatan dikenal memiliki nilai adat dan budaya yang kuat. Kehidupan sosial masyarakat berjalan dalam semangat kebersamaan, dengan peran gereja dan tokoh adat yang cukup dominan dalam menjaga stabilitas sosial dan harmoni antarwarga.
Pemerintah daerah menargetkan pengembangan sektor pertanian modern, pemberdayaan UMKM, serta penguatan tata kelola pemerintahan yang transparan. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan dukungan masyarakat, Manokwari Selatan diyakini mampu menjadi salah satu daerah penyangga pertumbuhan ekonomi di Papua Barat.
Manokwari Selatan bukan hanya daerah pemekaran, tetapi representasi harapan baru bagi pembangunan yang berkelanjutan di Tanah Papua