Papuatribune.com, SORONG – Kegiatan Launching Rumah Kebangsaan Provinsi Papua Barat Daya resmi dilaksanakan di Sekretariat Rumah Kebangsaan, Kilometer 10 Matamalagi, Kecamatan Sorong Utara, Kota Sorong.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya perwakilan Direktur Intelkam Polda Papua Barat Daya AKBP Muhammad Salim Nurlily, S.IP., S.H., M.H., Ketua DPD GMNI Tanah Papua Raymond Yekwan, Ketua PKC PMII Papua Barat dan Papua Barat Daya Jufran Rumadaul, perwakilan Badko HMI Abdul Kadir Loklomin, Ketua KOMDA PMKRI Papua Barat Daya Yance Yesnat, Koordinator Wilayah XII GMKI Tanah Papua Aca C. Brin, serta Ketua IMM Papua Barat Daya Samran Palapa Adji.
Dalam sambutannya, Raymond Yekwan menyampaikan bahwa Rumah Kebangsaan merupakan program resmi yang diinisiasi oleh Kapolri dan diturunkan kepada kelompok Cipayung di setiap provinsi untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Ia menegaskan bahwa Rumah Kebangsaan diharapkan menjadi wadah diskusi strategis bagi berbagai elemen, khususnya dalam merespons potensi gangguan keamanan di Papua Barat Daya melalui kolaborasi dan pertukaran gagasan.

Sementara itu, AKBP Muhammad Salim Nurlily menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rumah Kebangsaan sebagai ruang persatuan dan dialog kebangsaan. Ia menilai keberadaan Rumah Kebangsaan menjadi simbol penting dalam merawat kebhinekaan, memperkuat toleransi, serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tetap kondusif, khususnya di Kota Sorong.
Lebih lanjut, ia menyampaikan keyakinannya bahwa sinergi antara seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga aparat keamanan, akan mampu menjaga stabilitas daerah demi mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga berharap Rumah Kebangsaan dapat menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan positif dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta mempererat persatuan bangsa.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Rumah Kebangsaan Provinsi Papua Barat Daya, kemudian ditutup dengan doa bersama. [mr]