Kepala Suku Mairasi Apresiasi Pelaksanaan Perayaan 1 Abad Nubuatan Domine I.S. Kijne di Teluk Wondama

0
WhatsApp Image 2025-12-09 at 16.22.33

Papuatribune.com, Teluk Wondama – Kepala Suku Mairasi, Bapak Yakobus Yapata, menyampaikan apresiasi dan respon positif atas pelaksanaan Perayaan 1 Abad Nubuatan Domine I.S. Kijne yang berlangsung di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Menurutnya, momentum satu abad nubuatan tersebut bukan hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga momen penting untuk memperkuat nilai persaudaraan, iman, dan identitas masyarakat adat di wilayah Wondama.

Dalam keterangannya, Yakobus Yapata menegaskan bahwa perayaan besar ini mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang harmonis antara masyarakat adat, pemerintah daerah, lembaga gereja, dan seluruh komponen umat. Ia menyebut, pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, dan penuh khidmat, mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam menjaga stabilitas Kamtibmas selama berlangsungnya rangkaian acara.

“Kami masyarakat Mairasi memberikan apresiasi atas penyelenggaraan perayaan 1 abad nubuatan Domine I.S. Kijne. Kegiatan ini telah memperkuat semangat persatuan serta mengingatkan kita akan nilai-nilai pelayanan dan pengabdian yang diwariskan oleh Domine Kijne,” ujar Yakobus Yapata.

Ia juga mengajak seluruh warga Wondama, khususnya generasi muda, untuk menjadikan perayaan 100 tahun nubuatan tersebut sebagai motivasi dalam membangun karakter, menjaga persatuan, dan melanjutkan cita-cita pelayanan yang mengedepankan kasih, kedamaian, serta penghargaan terhadap sesama.

Lebih jauh, Kepala Suku Mairasi itu mengapresiasi kinerja aparat keamanan yang telah memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar. Ia berharap kerjasama yang harmonis antara masyarakat adat dan aparat keamanan dapat terus dipertahankan dalam setiap kegiatan besar di Teluk Wondama.

Dengan suksesnya perayaan 1 abad nubuatan Domine I.S. Kijne, Yakobus Yapata menilai bahwa Kabupaten Teluk Wondama telah menunjukkan teladan dalam menjaga keberagaman dan kekompakan masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai religius yang menjadi fondasi kehidupan sosial di tanah Papua. (.,.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *