WhatsApp Image 2025-10-03 at 13.11.21

Papuatribune, Manokwari – Wakil Ketua Komisi III DPR Papua Barat yang juga merupakan Tokoh pemuda Pegunungan Tengah, menyampaikan pandangannya terkait isu Black September yang saat ini mulai berkembang di Provinsi Papua Barat, khususnya di Kabupaten Manokwari.

Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa di Tanah Papua saat ini terdapat tiga kelompok besar, yakni kelompok Papua Merdeka, kelompok Indonesia Merdeka, serta kelompok abu-abu yang dinilai kerap menjadi pemicu aksi anarkis di lapangan.

Menurutnya, dinamika aksi yang sering terjadi di Manokwari justru lebih banyak didominasi oleh kalangan mahasiswa, bukan masyarakat umum. Hal ini membuat mahasiswa menjadi kelompok yang rentan terprovokasi, terutama dengan adanya upaya doktrin dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak aksi dilakukan oleh anak-anak Pegunungan Tengah, termasuk dari Wamena. Hal ini berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap masyarakat Wamena sebagai pembuat onar. Padahal tidak semua seperti itu,” tegasnya.

Menyikapi hal tersebut, ia menekankan agar isu Black September dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dari sejarah bangsa. Menurutnya, Polri bersama tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di Papua Barat perlu dilibatkan untuk memberikan himbauan yang menyejukkan.

“Black September mengingatkan kita bahwa Indonesia pernah melalui masa kelam akibat perpecahan. Pesan positifnya adalah kita semua harus terus menjaga persatuan dalam bingkai NKRI, memperkuat gotong royong, dan mengutamakan dialog damai,” ungkapnya.

Ia juga mengajak mahasiswa di Papua Barat untuk menyikapi isu ini dengan cara intelektual, melalui diskusi, seminar, dan kajian sejarah objektif. Dengan begitu, generasi muda tidak lagi dipandang sebagai pemicu konflik, melainkan sebagai motor perdamaian dan pembangunan.

“Isu Black September jangan dipandang sebagai ancaman, tetapi peluang untuk memperkuat kesadaran sejarah, menumbuhkan rasa kemanusiaan, menjaga persatuan, dan mendorong pembangunan damai di Papua Barat,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Polda Papua Barat khususnya Kapolda Papua Barat, yang dinilai telah bekerja keras menjaga situasi keamanan di wilayah Manokwari dari dampak isu-isu nasional.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap mengutamakan persatuan. “Mari kita bersama-sama menjaga kedamaian, agar Papua Barat tetap aman dan masyarakat bisa fokus pada kesejahteraan,” tandasnya. (.,.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *